Situasi kepemimpinan di Nahdlatul Ulama (NU) kembali memanas dengan adanya konflik yang melibatkan dua kubu. Menyusul penegasan bahwa dirinya tetap sah sebagai ketua umum, Yahya Cholil Staquf menghadapi penolakan terhadap keputusan rapat pleno yang mengangkat Zulfa Mustofa sebagai pejabat ketua umum sementara. Ketidakpastian ini menunjukkan dinamika internal yang mengguncang salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Dalam pernyataannya, Yahya, yang akrab disapa Gus Yahya, menyebut bahwa keputusan rapat pleno Syuriah PBNU tanggal 9 Desember lalu tidak sah. Ia mengklaim bahwa ia hanya dapat diganti melalui muktamar, yang merupakan forum tertinggi untuk mengambil keputusan dalam struktur organisasi ini. Pemilu dalam muktamar menjadi hal penting, mengingat perubahan kepemimpinan dapat mempengaruhi arah dan visi organisasi ke depan.
Keputusan yang diambil oleh rapat pleno itu juga disebutkan telah dirancang untuk mempercepat muktamar yang dijadwalkan terjadi pada 2027. Meski demikian, Mohammad Nuh, yang memimpin rapat tersebut, menyatakan bahwa jadwal tersebut tidak dipercepat, tetapijustru dikembalikan ke siklus semula setelah sempat tertunda akibat pandemi.
Konflik Kepemimpinan dan Penolakan Internal
Dalam konteks dualisme kepemimpinan ini, pernyataan Gus Yahya mengandung pesan tegas. Ia mengklaim bahwa rapat harian Syuriah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikannya. Ini mencerminkan betapa kompleksnya struktur perpolitikan dalam NU, di mana konsensus dan keputusan kolektif menjadi kunci dalam menjaga stabilitas organisasi.
Gus Yahya menggarisbawahi pentingnya muktamar bagi pengambilan keputusan. Ia dikhawatirkan akan kehilangan otoritasnya jika keputusan diambil tanpa melibatkan forum yang lebih besar. Penolakan sepihak ini membuka keran konflik yang lebih dalam di kalangan pengurus, yang bisa berimplikasi pada kinerja organisasi.
Agenda besar muktamar mendatang juga menjadi sorotan. Hal ini termasuk peringatan satu abad NU dan konferensi besar yang menjadi pijakan untuk keputusan penting. Berbagai program dan evaluasi dalam muktamar dijadwalkan menjadi fokus utama diskusi yang akan melibatkan banyak pihak di organisasi ini.
Dampak Terhadap Keanggotaan dan Stabilisasi Organisasi
Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi struktur kepemimpinan, tetapi juga dapat berdampak pada keanggotaan NU. Anggota organisasi mungkin akan mulai mempertanyakan demokrasi internal dan bagaimana suara mereka didengarkan. Ketidakpuasan dalam lingkaran pengurus bisa mengarah pada perpindahan dukungan ke kubu lain, yang berisiko memecah belah organisasi.
Di sisi lain, stabilitas organisasi sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap peran NU dalam masyarakat. Ketika kedaulatan keputusan diambil dalam suasana penuh konflik, legitimasi dan integritas lembaga dapat dipertaruhkan. Oleh karena itu, segala upaya untuk meredakan ketegangan internal menjadi vital guna mencegah disintegrasi lebih jauh.
Pada saat yang sama, Gus Yahya berencana menggelar rapat pleno tandingan. Ia mengundang Zulfa untuk hadir dalam rapat yang akan dilakukannya. Ini menunjukkan usaha Gus Yahya untuk membuka ruang dialog sekaligus mempertahankan posisinya di organisasi. Rapat plenonya tidak hanya akan membahas program, tetapi juga memberikan kesempatan untuk evaluasi terhadap berbagai tindakan yang sudah diambil sebelumnya.
Pentingnya Dialog dan Kesepakatan dalam Organisasi
Semua pihak yang terlibat perlu menyadari bahwa konsensus adalah kunci keberlangsungan NU di masa depan. Ketidakpastian dalam kepemimpinan dapat menimbulkan kebingungan di kalangan anggota. Oleh karena itu, penting bagi semua elemen organisasi untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dalam menyelesaikan masalah ini.
Dialog dan kesepakatan, meskipun terkadang tampak membingungkan dan kompleks, adalah sarana untuk mencapai pemahaman dan menyusun strategi bersama untuk mengatasi masalah. Dalam konteks ini, seluruh pengurus harus siap mendengarkan pendapat satu sama lain demi kebaikan organisasi.
Rapat plenonya yang akan datang diharapkan bisa menjadi titik temu bagi semua pihak yang terlibat. Gus Yahya berharap bahwa evaluasi terhadap berbagai program akan menghasilkan inovasi dan perbaikan bagi organisme. Dengan demikian, tantangan internal ini dapat dihadapi dengan penuh rasa tanggung jawab.




