Puluhan pegawai Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jateng-DIY mengalami insiden tak terduga ketika mereka diusir dari Museum Keraton Surakarta, Jawa Tengah, pada Sabtu (13/12). Kejadian ini berlangsung saat para petinggi Lembaga Dewan Adat (LDA) berada di Jakarta untuk memenuhi undangan resmi Kementerian Kebudayaan.
Insiden tersebut menyebabkan kekacauan di antara tim BPK yang sedang melaksanakan revitalisasi dan konservasi di museum tersebut. Salah satu pegawai, Aldila, mengungkapkan bahwa mereka tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai alasan pengusiran itu.
Menurut Aldila, saat mereka sedang bekerja, tiba-tiba ada sekelompok orang yang masuk dan meminta mereka meninggalkan area museum. Meskipun ketakutan, Aldila dan timnya merasa tidak memiliki pilihan lain dan memutuskan untuk keluar.
Insiden Pengusiran yang Mengundang Protes
Pada saat insiden itu berlangsung, tim BPK terdiri dari 20-25 orang yang telah bekerja di museum selama sekitar sebulan. Mereka biasanya melakukan aktivitas dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, sehingga pengusiran ini sangat mengejutkan.
Aldila menjelaskan bahwa pintu museum kemudian dikunci, sehingga para pegawai tidak bisa kembali untuk mengambil peralatan dan bahan kerja yang tertinggal. Keadaan tersebut jelas membuat situasi menjadi semakin sulit, mengingat mereka tidak tahu kapan bisa kembali.
Setelah kejadian tersebut, Aldila segera melaporkan insiden ini kepada atasan di BPK Wilayah X. Mereka kini menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai langkah-langkah yang harus diambil setelah kejadian tersebut.
Penjelasan dari Pihak Keraton
Di pihak lain, juru bicara Lembaga Dewan Adat, KPA Singonagoro, membantah bahwa pihak mereka telah melakukan tindakan pengusiran. Singonagoro menjelaskan bahwa mereka hanya ingin melakukan penggantian kunci-kunci di Keraton sehingga proses administrasi bisa berjalan dengan baik.
Dia menegaskan bahwa tidak ada pengusiran yang terjadi, melainkan hanya permintaan bagi pekerja BPK untuk pulang lebih awal. Menurutnya, ini adalah langkah wajar untuk melakukan pembenahan di dalam museum.
Singonagoro juga menekankan bahwa pihaknya terbuka untuk berkomunikasi dengan semua pihak yang terlibat. Jika pegawai BPK ingin kembali, mereka dipersilakan untuk berkoordinasi dengan pengelola museum.
Reaksi Masyarakat Terhadap Peristiwa Ini
Berita mengenai insiden ini langsung menarik perhatian publik, terutama pecinta budaya dan sejarah. Banyak yang menganggap pengusiran tersebut sebagai tindakan yang bisa memicu konflik antara berbagai lembaga yang memiliki tanggung jawab terhadap pelestarian budaya.
Para netizen di media sosial mulai membahas peristiwa ini dengan berbagai sudut pandang. Beberapa menyuarakan kekhawatiran tentang dampak jangka panjang terhadap upaya pelestarian budaya lokal jika insiden seperti ini terus berlanjut.
Warga setempat juga ikut memberikan pendapat, banyak yang menyayangkan ketegangan yang terjadi di antara lembaga-lembaga tersebut. Mereka berharap agar komunikasi dan kerjasama dapat diutamakan demi melestarikan warisan budaya yang ada.
Langkah Selanjutnya Dalam Menangani Kasus Ini
Pasca insiden ini, muncul pertanyaan mengenai langkah apa yang akan diambil oleh BPK dan SISKS Pakubuwana XIV. Dalam konteks ini, penting untuk menjalin komunikasi yang baik agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Kepala BPK diharapkan dapat segera mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Kejelasan informasi sangat penting agar semua pihak bisa mendapatkan pemahaman yang sama mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing.
Tim BPK juga memiliki harapan besar agar bisa kembali melanjutkan pekerjaan mereka di Museum Keraton tanpa ada hambatan. Selain itu, mereka ingin agar semua peralatan yang tertinggal bisa segera diambil dan digunakan untuk melanjutkan proyek konservasi.




