Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali mengalami penyesuaian pendaratan pesawat akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi. Tindakan ini diambil demi memberikan jaminan keselamatan bagi penumpang dan kelancaran penerbangan.
Kepala Divisi Komunikasi dan Legal Bandara, Gede Eka Sandi Asmadi, mengungkapkan bahwa situasi cuaca yang tidak menentu memaksa pihak bandara melakukan langkah strategis untuk menghindari risiko kecelakaan. Penyesuaian ini bertujuan memastikan setiap penerbangan dapat dilakukan dengan aman meski cuaca buruk.
Ada enam penerbangan yang terpaksa menunggu dalam posisi holding, menunggu izin untuk mendarat. Pesawat-pesawat itu berasal dari berbagai destinasi, termasuk Melbourne, Perth, dan Abu Dhabi.
Pengalihan Penerbangan dan Dampaknya terhadap Penumpang
Selain penerbangan yang menunggu, beberapa di antaranya mengalami pengalihan pendaratan. Dua pesawat dialihkan ke Bandara Lombok, sementara tiga penerbangan lainnya mendarat di Bandara Surabaya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya koordinasi antar bandara dalam menghadapi kondisi cuaca yang ekstrem.
Asmani memastikan bahwa penerbangan yang dialihkan tersebut akhirnya mendarat dengan aman. Meskipun demikian, penyesuaian yang dilakukan dapat menjadi sumber kebingungan bagi penumpang yang menantikan informasi terbaru mengenai penerbangan mereka.
Pihak bandara sangat mengutamakan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Dalam situasi seperti ini, komunikasi yang jelas antara pihak bandara, maskapai, dan penumpang menjadi sangat penting untuk mengurangi rasa cemas dan memastikan semua pihak mendapatkan informasi akurat.
Persiapan Menghadapi Musim Hujan di Bandara
Menjelang musim hujan, Bandara I Gusti Ngurah Rai telah melakukan berbagai antisipasi untuk menjaga keselamatan penerbangan. Asmadi menjelaskan bahwa prediksi cuaca yang kurang baik telah diperhitungkan, termasuk kemungkinan hujan deras. Semua langkah ini diambil untuk meminimalkan dampak negatif terhadap operasional penerbangan.
Pihak bandara berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, seperti BMKG dan AirNav, guna mendapatkan informasi cuaca yang akurat. Kerja sama ini menjadi bagian esensial dalam memastikan bahwa semua aktivitas penerbangan berlangsung optimal meskipun cuaca tidak bersahabat.
Data dari bandara mengindikasikan bahwa pada periode liburan, jumlah pergerakan penumpang meningkat signifikan. Oleh karena itu, antisipasi terhadap kemungkinan cuaca buruk menjadi semakin penting dalam menjaga kelancaran operasional.
Lonjakan Penumpang Saat Libur Nataru dan Respons Bandara
Pada periode 15-26 Desember, Bandara I Gusti Ngurah Rai mencatat lebih dari 800 ribu penumpang. Dengan rata-rata 67 ribu penumpang per hari, lonjakan ini memberi tantangan tersendiri bagi pihak bandara dalam mengelola arus kedatangan dan keberangkatan pesawat. Hal ini menambah kompleksitas dalam pengelolaan keselamatan penerbangan di tengah perubahan cuaca yang bisa tiba-tiba.
Di samping itu, pergerakan pesawat juga mencatat angka yang signifikan, mencapai lebih dari 5 ribu pergerakan selama masa liburan tersebut. Jumlah ini menunjukkan tingginya permintaan perjalanan udara di saat-saat tertentu, menjadikan pengelolaan operasional semakin krusial.
Meski situasi cuaca cukup mendesak, pihak bandara tetap berkeyakinan dapat menjaga kelancaran penerbangan. Asmadi menekankan pentingnya tindakan preventif agar seluruh penerbangan dapat dilakukan tanpa hambatan berarti.




