Inflasi menjadi salah satu isu yang mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat di berbagai daerah. Dalam konteks Indonesia, beberapa provinsi mengalami angka inflasi yang cukup tinggi, terutama di wilayah Sumatera.
Pengamat ekonomi menyoroti pentingnya perhatian terhadap inflasi yang meningkat, karena hal ini dapat langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Dengan kondisi ini, pemerintahan daerah dituntut untuk lebih proaktif dalam mengatasi masalah inflasi yang membebani masyarakat.
Baru-baru ini, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, memberikan penjelasan yang mendalam mengenai situasi inflasi terkini. Dalam rilis yang disampaikan, Tomsi menekankan bahwa angka inflasi yang tinggi di beberapa daerah perlu menjadi perhatian serius bagi para kepala daerah.
Dalam laporannya, Tomsi menyebutkan bahwa ada sepuluh provinsi yang mencatat inflasi year on year (yoy) tertinggi. Sebagian besar provinsi tersebut terletak di Pulau Sumatera, menunjukkan bahwa masalah inflasi ini bersifat regional dan memerlukan solusi yang tepat dan cepat.
Mengacu pada data terbaru yang dirilis pada bulan Oktober 2025, Sumatera Utara menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi, mencapai 5,32 persen. Riau dan Aceh mengikuti dengan inflasi masing-masing 5,08 persen dan 4,45 persen. Di sisi lain, provinsi Provinsi Sulawesi juga tidak lepas dari situasi serupa dengan inflasi yang cukup menekankan.
Inflasi di Provinsi Sumatera dan Dampaknya terhadap Masyarakat
Pemerintah daerah di provinsi yang terpaksa mencatat inflasi tinggi mesti memperhatikan dampak yang dirasakan masyarakat. Contohnya, di Sumatra Utara, angka inflasi di atas 5 persen jelas berpengaruh pada harga barang kebutuhan sehari-hari.
Tomsi Tohir menekankan bahwa para gubernur dan kepala daerah perlu mengambil langkah nyata untuk menanggulangi dampak inflasi. Hal ini termasuk monitoring harga di pasar dan mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan keuangan saat situasi ekonomi sulit.
Lebih lanjut, Tomsi berbicara mengenai pentingnya kolaborasi antara pusat dan daerah dalam mengatasi inflasi. Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, ia menyatakan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga harus dilakukan secara aktif oleh pemerintah daerah.
Menurut Tomsi, inflasi yang mencapai angka 5,32 persen di suatu provinsi memiliki pengaruh signifikan terhadap kenaikan harga barang kebutuhan. Kenaikan harga ini harus ditangani agar tidak menyebabkan keresahan di masyarakat.
Oleh karena itu, kepala daerah diharapkan dapat lebih aktif turun ke lapangan menjumpai warga untuk berdialog dan memahami masalah yang mereka hadapi ketika harga barang naik. Dengan begitu, langkah-langkah strategis dapat segera diambil untuk menanggulangi permasalahan tersebut.
Data Inflasi Tertinggi di Indonesia per Kabupaten
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik yang dirilis pada tanggal 1 Oktober 2025, beberapa kabupaten mencatat angka inflasi yang juga cukup tinggi. Deli Serdang misalnya, mencatat inflasi 6,81 persen yang berdampak signifikan pada kestabilan harga barang di wilayah tersebut.
Selain Deli Serdang, Labuhanbatu dan Pasaman Barat juga mempunyai inflasi yang sama yakni 6,38 persen. Tembilahan dan Kerinci menyusul dengan 6,34 persen dan 5,90 persen masing-masing, menunjukkan bahwa ada beberapa titik di Indonesia yang sangat butuh perhatian lebih.
Tidak hanya itu, Aceh Tengah dengan inflasi 5,80 persen serta beberapa daerah lainnya seperti Kampar dan Toli-Toli dengan inflasi di atas 5 persen, memberikan gambaran bahwa fenomena inflasi ini tidak bisa dianggap sepele. Merespons situasi ini menjadi tanggung jawab semua pihak dalam rangka menemukan solusi yang tepat.
Hal ini juga menandakan betapa pentingnya langkah cepat dari pemerintah nasional dan daerah untuk melakukan pengendalian harga serta menjaga stabilitas pasar. Kerjasama antara berbagai instansi sangat penting untuk memastikan bahwa kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa harus terpengaruh oleh fluktuasi harga yang tinggi.
Dengan memahami perkembangan inflasi di tingkat kabupaten, diharapkan pemerintah dapat melakukan intervensi yang lebih efektif. Tindakan preventif sebelum inflasi memburuk sangat diperlukan agar masyarakat tidak semakin tertekan karena kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Peran Pemerintah dan Strategi Pengendalian Inflasi
Pemerintah perlu memiliki strategi yang komprehensif dalam menanggulangi inflasi tinggi di daerah. Hal pertama yang disorot adalah perlunya koordinasi yang baik antara kementerian dan pemerintah daerah agar pengendalian inflasi dapat berlangsung efektif.
Selain itu, program-program sosial yang diberikan harus diarahkan pada masyarakat yang paling terdampak inflasi. Ini termasuk bantuan ransum atau subsidi bagi mereka yang paling rentan terhadap perubahan harga.
Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi tentang pengelolaan keuangan juga menjadi penting selama masa inflasi. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat dapat belajar untuk beradaptasi dan merencanakan keuangan mereka dengan lebih baik.
Keberlanjutan dalam melaksanakan program pengendalian inflasi memerlukan evaluasi secara berkala dan penyesuaian strategi sesuai dengan kondisi lapangan. Hal ini akan memastikan bahwa langkah yang diambil selalu relevan dan dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Dengan kombinasi semua faktor ini, diharapkan pengendalian inflasi di daerah dapat berjalan dengan baik dan berdampak positif pada kondisi perekonomian masyarakat secara keseluruhan. Tindakan preventif lebih awal dan tanggap terhadap perubahan kondisi sangat penting untuk meningkatkan ketahanan ekonomi di berbagai wilayah, terutama di daerah dengan inflasi tinggi.




