Ratusan jagal sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Surabaya pada Senin lalu. Mereka membawa beberapa ekor sapi sebagai simbol penolakan terhadap rencana relokasi aktivitas penyembelihan sapi ke tempat baru yang dianggap akan mengancam mata pencaharian mereka.
Aksi ini bukan hanya sekadar protes, melainkan merupakan refleksi dari ketidakpuasan yang mendalam terhadap kebijakan pemerintah setempat. Salah satu orator dalam demonstrasi, Kukuh, menjelaskan bahwa RPH Pegirian adalah jantung dari kehidupan banyak orang yang bergantung pada pekerjaan ini.
“Memindahkan kami sama dengan mematikan penghidupan kami,” teriak Kukuh di atas mobil komando, menekankan betapa kritisnya situasi yang dihadapi para jagal.
Protes Jagal dan Efek terhadap Ekonomi Setempat
Aksi protes ini melibatkan bukan hanya para jagal, tetapi juga pedagang daging dari pasar lokal. Mereka berdemonstrasi bersama, mengekspresikan kekhawatiran akan dampak relokasi terhadap distribusi dan kualitas daging sapi yang dijual kepada masyarakat.
Luluk, salah satu pedagang daging, menggambarkan situasi dengan jelas: “Akses ke lokasi baru terlalu jauh dan bisa menaikkan biaya operasional, sehingga kesegaran daging menjadi terancam.” Mereka khawatir bahwa langkah ini akan menghancurkan ekonomi lokal yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Perwakilan dari jagal, Abdullah Mansyur, menuntut Wali Kota Surabaya untuk membatalkan keputusan tersebut. “Kami tidak hanya ingin ditempatkan tanpa konsultasi,” ujarnya, menunjukkan bahwa dialog dengan pihak berwenang adalah hal yang sangat penting bagi mereka.
Risiko Mogok Kerja dan Dampaknya terhadap Stabilitas Pasokan Daging
Abdullah memperingatkan bahwa jika rencana pemindahan tidak dibatalkan, mereka akan memulai mogok kerja. Sekitar 50 orang jagal menekankan bahwa mogok ini berpotensi menyebabkan kekosongan pasokan daging di pasar-pasar tradisional.
Mogok tersebut berpotensi berdampak besar tidak hanya pada pasokan daging di Surabaya, tetapi juga pada stabilitas harga daging di seluruh Jawa Timur dan nasional. “Ini adalah alarm bagi pemerintah, dan kami berharap mereka memperhatikan isu ini,” ungkap Abdullah.
Dia menambahkan, “Kami tidak akan menyalurkan daging ke pasar jika pemindahan ini tetap dilanjutkan,” menegaskan posisi mereka untuk melindungi hak dan penghidupan sebagai jagal.
Tanggapan dari Pihak Pemerintah dan Manajemen RPH
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fatoni, mengatakan bahwa pihaknya terbuka untuk dialog dan siap mendengarkan aspirasi para jagal. “Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa semua pandangan didengar dan dipertimbangkan,” ujarnya saat menjawab aksi demonstrasi tersebut.
Di sisi lain, Direktur Utama PT RPH Surabaya, mengonfirmasi bahwa mogok yang berlangsung berpengaruh pada distribusi daging segar. Dia juga meminta maaf kepada masyarakat Surabaya atas kesulitan dalam memperoleh pasokan daging akibat aksi tersebut.
Namun, pihak manajemen memastikan ketersediaan pasokan daging masih terkendali, dengan beberapa unit RPH kemarin tetap menjalankan kegiatan pemotongan seperti biasa.
Pemindahan RPH dan Potensi Kesiapan Fasilitas Baru
RPH Pegirian terletak di Kecamatan Semampir, sementara RPH Tambak Osowilangun berada di Kecamatan Benowo. Jarak antara kedua lokasi ini sekitar 15 kilometer, yang menambah kekhawatiran tentang kesulitan akses bagi jagal dan pedagang.
Manajemen RPH mengungkapkan rencana pemindahan akan dilakukan secara bertahap. “Kami memberikan waktu bagi jagal untuk beradaptasi dengan fasilitas baru, sambil menjamin agar tidak ada gangguan pada pasokan daging,” tambah mereka.
Namun, banyak jagal yang skeptis dan berharap agar kebijakan ini dievaluasi ulang demi menjaga kesejahteraan mereka dan stabilitas pasar daging di Surabaya.




