Aparat penegak hukum berhasil mengidentifikasi jenazah salah satu korban kapal wisata KM Putri Sakinah yang ditemukan di perairan Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (6/1) kemarin. Jenazah tersebut teridentifikasi sebagai seorang anak laki-laki warga negara Spanyol berusia sepuluh tahun yang merupakan anak dari pelatih klub sepak bola ternama yang juga berada di kapal tersebut.
Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, mengungkapkan bahwa tim DVI melakukan pemeriksaan forensik untuk memastikan identitas melalui data medis. Dalam proses ini, ciri-ciri medis dan ontologi, termasuk temuan gigi palsu, menjadi faktor penting dalam penentuan identitas.
Proses identifikasi dilakukan dengan standar kemanusiaan internasional karena sosok korban adalah seorang anak dan warga negara asing. Tim medis bekerja keras untuk memastikan bahwa prosedur yang ada diikuti dengan penuh kehati-hatian dan profesionalisme.
Detil Penemuan Jenazah di Pulau Komodo
Jenazah korban ditemukan ketika tim SAR gabungan merespons kabar tentang bangkai kapal di sekitar Pulau Komodo. Temuan ini adalah hasil pencarian yang cukup intensif yang dilakukan selama dua belas hari sebelumnya.
Kapal KM Putri Sakinah mengalami tenggelam pada 26 Desember 2025, di perairan Padar Selatan, area Taman Nasional Komodo. Setelah lebih dari dua minggu pencarian, dua jenazah telah ditemukan, dengan satu korban yang masih dalam pencarian.
Dalam upaya pencarian, tim DVI berkolaborasi dengan tim medis setempat dan menggunakan alat-alat modern untuk meningkatkan efisiensi pencarian. Meskipun tim telah menemukan beberapa korban, proses pencarian tetap menjadi prioritas utama untuk menemukan sisa korban yang hilang.
Perkembangan Operasi Pencarian dan Rescue
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menyatakan bahwa fokus pencarian pada hari ketiga belas adalah area selatan Pulau Komodo, di mana bangkai kapal ditemukan. Dikatakan pula bahwa operasi pencarian melibatkan penggunaan drone thermal untuk pemantauan udara serta kehadiran tim penyelam yang cekatan.
Fathur menjelaskan bahwa pihaknya mengerahkan 168 personel gabungan dari berbagai institusi, termasuk Basarnas dan TNI-Polri. Selain itu, mereka menggunakan 18 alat utama untuk mendukung proses pencarian dengan harapan agar bisa menemukan korban selanjutnya.
Rabu (7/1) menjadi hari terakhir operasi SAR gabungan, di mana tim bertugas melakukan penyelaman lebih lanjut di sekitar lokasi kapal yang karam. Kontribusi masyarakat lokal dan berbagai organisasi juga sangat penting dalam mendukung pencarian ini.
Strategi Pencarian Korban dalam Nautical Mile Tersebut
Fokus pencarian yang dilakukan oleh tim SAR tidak hanya terbatas pada area di sekitar bangkai kapal saja, tetapi juga merambah ke Pulau Serai dan Pulau Padar. Perencanaan yang matang menjadi kunci untuk memperlebar area pencarian agar semua kemungkinan dijangkau secara optimal.
Pelaksanaan penyelaman dilakukan di daerah puing kapal, dengan harapan menemukan korban terakhir yang masih hilang. Namun, hasil penyelaman sebelumnya masih nihil, sehingga meningkatkan urgensi pencarian yang terus dilakukan dengan lebih intensif.
Informasi awal yang diperoleh dari nelayan terkait penemuan puing kapal menggerakkan tim SAR untuk segera mengadakan penyisiran di lokasi sekitar. Dari situ, kebutuhan untuk menemukan satu jasad korban semakin mendesak, mengingat waktu yang terus berlalu.
Tindakan dan Respon dari Kedutaan Besar Spanyol
Kedutaan Besar Spanyol untuk Indonesia menyampaikan permohonan kepada aparat untuk memperpanjang masa pencarian korban yang masih hilang. Keputusan untuk memperpanjang operasi pencarian disepakati demi menghormati permintaan keluarga dan pihak terkait lainnya.
Kombes Pol Henry Novika Chandra menambahkan bahwa perpanjangan waktu pencarian akan berlangsung selama dua hari ke depan. Hal ini dilakukan untuk memastikan semua upaya maksimal dalam menemukan satu korban yang belum ditemukan hingga waktu yang ditentukan.
Tim SAR dan pihak berwenang lainnya bertekad untuk menyelesaikan tugas mulia ini demi memberikan kejelasan bagi keluarga korban. Berbagai fase pencarian yang dilakukan menunjukkan komitmen tinggi dari semua pihak yang terlibat, termasuk relawan lokal.




