Dalam peristiwa tragis yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, tim SAR gabungan berhasil menemukan beberapa jasad korban ambruknya gedung pada Jumat pagi, 3 Oktober. Penemuan terbaru ini menambah jumlah korban meninggal menjadi delapan orang, menggambarkan betapa mengerikannya kejadian ini untuk komunitas setempat.
Ketika kejadian berlangsung, ratusan santri tengah melaksanakan Salat Asar berjamaah di gedung tersebut yang masih dalam tahap penyelesaian. Dengan terjadinya ambruk, banyak yang terjepit dalam reruntuhan, menyebabkan momen kritis bagi para penyelamat yang berusaha melakukan evakuasi dengan cepat dan efektif.
“Kami berhasil mengevakuasi tiga korban di sektor A2,” ungkap Nanang Sigit, Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, menjelaskan rincian penemuan tersebut. Setiap usaha evakuasi menjadi lebih mendesak seiring waktu berlalu dan harapan akan menemukan lebih banyak korban semakin menipis.
Detil Proses Evakuasi Korban
Proses evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR dimulai dengan penemuan korban pertama pada pukul 07.30 WIB. Dari sinilah, tim harus cepat menentukan langkah selanjutnya untuk mengamankan area dan melanjutkan pencarian yang penuh risiko ini.
Kedua korban ditemukan tiga menit setelah penemuan pertama, di mana keduanya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, tertutup reruntuhan. Hal ini menandakan tantangan serius bagi tim penyelamat dalam mengakses dan mengevakuasi santri yang terjebak.
Kemudian, pada pukul 10.17 WIB, korban ketiga berhasil ditemukan dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Korban tersebut juga terperangkap di antara beton yang runtuh, memaksa tim untuk bekerja keras dalam kondisi yang berbahaya untuk keselamatan mereka sendiri.
Metode Evakuasi yang Digunakan Tim
Tim SAR menggunakan dua metode dalam upaya penyelamatan. Metode pertama melibatkan penggunaan alat berat untuk membongkar reruntuhan di bagian depan bangunan, agar jalur evakuasi bagi sesama tim dan santri yang terjebak dapat segera dibuka.
Di sisi lain, metode kedua melibatkan operasi pencarian tanpa alat berat di bagian belakang gedung. Ini adalah usaha yang membutuhkan keahlian setelah mempertimbangkan keselamatan dan risiko runtuhnya sisa bangunan.
Kedua metode ini saling melengkapi dalam mencapai tujuan utama penyelamatan. Tim telah berkoordinasi secara matang untuk memastikan tidak adanya tambahan korban baru akibat proses evakuasi itu sendiri.
Konsekuensi dari Insiden Tragis Ini
Hingga Jumat, 3 Oktober, terdapat total 111 korban yang berhasil dievakuasi dengan delapan di antaranya dilaporkan sudah meninggal. Jumlah tersebut mencerminkan dampak besar dari kejadian ini pada komunitas dan keluarga santri yang ada.
Sebagian besar korban yang selamat mengalami luka-luka, menunjukkan betapa berbahayanya keadaan saat insiden terjadi. Ketegangan dan ketidakpastian selama proses pencarian telah menguatkan solidaritas di dalam komunitas, yang bersama-sama berharap untuk keselamatan mereka yang masih terjebak.
Membangun kembali kepercayaan dan keamanan setelah insiden ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh pihak pengelola pondok pesantren serta masyarakat setempat. Proses rehabilitasi fisik dan emosional akan menjadi bagian dari perjalanan panjang pemulihan.




