Pendidikan di pedalaman Papua menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak yang bercita-cita tinggi. Di tengah keterbatasan yang ada, beberapa anak menunjukkan semangat yang luar biasa untuk belajar dan meraih impian mereka. Salah satunya adalah Yonce, yang mengisahkan perjuangannya untuk mengakses pendidikan.
Yonce, seorang siswa dari Papua, membagikan pengalamannya yang menyentuh hati banyak orang. Ia harus bangun pagi sekali, tepatnya jam tiga dini hari, untuk memulai perjalanan panjangnya menuju sekolah yang terletak jauh dari rumah.
Perjalanan yang dilalui Yonce bukanlah hal yang mudah. Ia harus berjalan kaki melewati bukit-bukit dan jembatan yang berbahaya, tanpa penerangan yang memadai, demi mengejar cita-citanya untuk bersekolah.
Berbagi Cerita Inspiratif Anak-Anak Papua
Dalam kesempatan berbagi tersebut, Yonce mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan pendidikan yang ia terima. Hari itu, ia berdiri di hadapan Puan, Ketua DPR, dan menyatakan cita-citanya untuk menjadi dokter. Menurutnya, banyak orang di Papua yang mengalami kesulitan ketika sakit karena kurangnya akses layanan kesehatan.
Ia menekankan pentingnya keberadaan tenaga kesehatan di wilayahnya. “Karena di Papua banyak orang sakit dan tidak ada yang membantu melayani,” ungkap Yonce, mengundang tepuk tangan dari para undangan yang hadir.
Selain Yonce, ada pula Emma Grace, seorang siswa lainnya dari Papua Pegunungan Tengah. Ia mengexpressikan keinginannya untuk menjadi tenaga kesehatan sekaligus mengajarkan bahasa Indonesia kepada orang-orang tua di daerahnya yang masih kesulitan berbahasa.
Pentingnya Peran YPHP dalam Meningkatkan Pendidikan
Puan, dalam pernyataannya, menjelaskan bahwa DPR akan terus berupaya membantu pendidikan anak-anak di Papua. Ia memberikan apresiasi terhadap Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) yang telah berkontribusi besar dalam upaya meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak di pedalaman.
“Terimakasih kepada yayasan yang telah membantu dan memelihara harapan anak-anak pedalaman Papua,” sebut Puan dengan nada penuh harapan. Dukungan dari berbagai pihak, menurutnya, sangat krusial untuk masa depan anak-anak di daerah tersebut.
Usai berdialog, Puan melanjutkan kunjungannya ke SLH Gunung Moria, tempat dimana anak-anak belajar dengan penuh semangat. Ia melihat lanskap pendidikan yang tidak hanya terbatas di dalam kelas, melainkan juga teras sekolah yang digunakan sebagai alternatif ruang belajar akibat kekurangan tempat.
Situasi Pendidikan di Papua dan Harapan Anak-Anak
Anak-anak di SLH Gunung Moria menyampaikan kepada Puan bagaimana sulitnya akses pendidikan di daerah mereka. Banyak dari mereka yang harus menghadapi kemiskinan dan ketidaksetaraan yang masih melanda Papua.
Semangat belajar mereka tak tergoyahkan meski di tengah kesulitan. Anak-anak dengan antusias menceritakan bahwa kehadiran guru-guru di sekolah ini telah memberikan mereka harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
Kepedulian dan kasih sayang guru-guru di SLH sangat berkesan di hati anak-anak. Mereka merasa terinspirasi untuk belajar lebih giat dan bercita-cita mencapai impian mereka, karena guru bukan hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga memberikan teladan dalam berperilaku.
Membangun Masa Depan Melalui Pendidikan Berkualitas
Puan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada anak-anak SLH Gunung Moria. Ia berharap agar mereka selalu dalam perlindungan Tuhan dan terus berjuang untuk impian mereka. “Mari kita jalankan semangat gotong royong untuk memastikan semua anak-anak di Indonesia menerima pendidikan berkualitas,” tambahnya.
Pesan yang disampaikan oleh Puan menjadi dorongan bagi anak-anak untuk tidak menyerah dalam mengejar cita-cita mereka. Dengan keberanian untuk bermimpi tinggi, semua anak, termasuk yang berasal dari Papua, memiliki peluang yang sama untuk mewujudkan harapan mereka di tanah air.
Puan menekankan pentingnya dukungan dari semua pihak untuk mendukung pendidikan anak-anak. Dengan semua usaha yang digelontorkan, diharapkan pendidikan berkualitas dapat tercapai bagi generasi mendatang, termasuk di seluruh pelosok negeri.




