Sebuah bencana alam telah melanda Banjar Kuwum Ancak, Desa Kuwum, Kabupaten Tabanan, Bali, yang mengakibatkan kerugian besar. Peristiwa tragis ini terjadi pada pagi hari Rabu, 21 Januari, ketika luapan air dari sungai mengakibatkan rumah warga ambruk.
Dalam insiden tersebut, seorang ibu bersama anak balitanya dilaporkan hilang setelah terseret arus. Identitas keduanya telah diungkap, yakni Yuliana Da Costa Makun berusia 29 tahun dan putrinya, Audrey Natania Banafanu yang berusia 1,5 tahun.
Kepala petugas SAR, Dudy Librana, menyatakan bahwa pencarian terhadap kedua korban masih berlangsung. Tim SAR gabungan melakukan pencarian dengan segala daya dan upaya yang ada.
Penyebab Terjadinya Banjir dan Rumah Ambruk di Bali
Peristiwa ini diduga terjadi akibat hujan deras yang melanda wilayah tersebut selama beberapa jam sebelum kejadian. Hujan yang mengguyur menyebabkan debit air sungai meningkat secara signifikan, yang menjadi faktor utama penyebab terjadinya bencana ini.
Keadaan semakin memburuk ketika tembok pondasi di sekitar rumah korban roboh akibat tekanan air yang sangat kuat. Tembok yang runtuh menyebabkan air bah langsung mengalir ke rumah, sehingga terciptalah momen yang mengerikan saat rumah itu ambruk dan terseret arus.
Seluruh kejadian ini menunjukkan bagaimana faktor alam dapat berkontribusi besar terhadap kerugian harta benda dan bahkan nyawa. Upaya mitigasi dan kesadaran akan bencana seperti ini perlu ditingkatkan di komunitas tersebut untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Upaya Pencarian Korban oleh Tim SAR Gabungan
Saat ini, upaya pencarian korban melibatkan berbagai elemen, termasuk tim dari Pemerintah Daerah Tabanan, TNI, Polri, serta Basarnas dan relawan masyarakat. Kerja sama ini menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap keamanan dan keselamatan warga lainnya.
Tim pencari telah dibagi menjadi dua unit, yaitu pencarian darat dan penelusuran di sungai. Upaya ini digelar setelah melakukan briefing untuk memastikan semua anggota tim memahami prosedur pencarian yang aman dan efisien.
Menurut Dudy Librana, pencarian difokuskan dalam radius dua kilometer dari lokasi awal kejadian. Hal ini merupakan langkah strategis supaya setiap sudut area pencarian dapat dijangkau dan memaksimalkan kemungkinan penemuan kedua korban.
Evaluasi dan Kendala dalam Proses Pencarian
Selama pelaksanaan pencarian, para petugas terus melakukan evaluasi mengenai kondisi lapangan. Setiap kendala yang dihadapi, baik itu cuaca atau medan yang sulit, akan didiskusikan untuk meningkatkan efektivitas tim SAR.
Jika setelah penilaian tidak ada kendala yang berarti, tim akan memperluas area pencarian hingga ke muara sungai. Keputusan ini diambil untuk memaksimalkan kapasitas penelusuran demi menemukan kedua korban secepat mungkin.
Tim secara aktif menjalin komunikasi dengan masyarakat setempat untuk mendapatkan informasi yang relevan. Kerja sama antara warga dan petugas sangat penting untuk menyukseskan misi pencarian ini.




