Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto tentang rencana pengiriman ratusan tenaga kesehatan tambahan ke wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan longsor di tiga provinsi di Sumatra. Sebanyak 600 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, dan koas akan segera diberangkatkan untuk memberikan layanan medis di daerah-daerah yang membutuhkan.
Dari total tersebut, sekitar 450 tenaga kesehatan sudah siap untuk diberangkatkan pada minggu ini. Kementerian Kesehatan mengantisipasi kebutuhan mendesak akan tenaga medis yang terampil untuk mendukung penanganan kesehatan pascabencana di kawasan tersebut.
Rencana pengiriman ini dilakukan untuk memastikan bahwa masyarakat yang terkena dampak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memberikan pertolongan cepat kepada korban bencana di Sumatra.
Peningkatan Respons Kesehatan di Wilayah Terdampak Bencana
Budi Gunadi menjelaskan bahwa para tenaga kesehatan yang dikirim akan bertugas memberikan layanan kesehatan kepada para pengungsi yang tinggal di posko-posko pengungsian. Mereka dijadwalkan akan bertugas selama sekitar tiga bulan, dengan rotasi setiap dua minggu untuk mencegah kelelahan di kalangan tenaga kesehatan.
Tenaga medis yang akan diterbangkan ini bersumber dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari organisasi profesi dan perguruan tinggi. Rekrutmen terbuka menggugah semangat banyak dokter, termasuk yang berspesialisasi, untuk berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini.
Dalam sesi pelaporan tersebut, Prabowo sempat mengungkapkan apresiasi atas semangat dan dedikasi para tenaga kesehatan yang siap untuk membantu di garis depan. Ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi di seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi bencana yang ada.
Situasi Operasional Fasilitas Kesehatan di Lokasi Bencana
Budi juga membagikan informasi tentang keadaan serta operasional fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit dan puskesmas, di wilayah yang terkena dampak bencana. Ia melaporkan bahwa sejumlah rumah sakit dan puskesmas perlahan-lahan mulai beroperasi kembali setelah mengalami kerusakan sebelumnya.
Sejak bencana melanda pada 25 November, ada 41 rumah sakit yang terhenti operasionalnya, tetapi hingga kini, sudah mulai beroperasi secara bertahap. Ini termasuk instalasi gawat darurat dan ruang operasi yang kembali dibuka untuk pelayanan pasien.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa sekitar 500 dari 1.000 puskesmas yang ada terdampak dan tidak bisa beroperasi akibat bencana. Namun, saat ini, 414 puskesmas sudah kembali berfungsi untuk melayani masyarakat yang masih tinggal di rumah mereka.
Data Korban dan Upaya Tanggap Darurat yang Dilakukan
Menurut laporan terakhir, hingga 15 Desember, korban jiwa akibat bencana di tiga provinsi mencapai 1.030 orang, dengan 206 warga dilaporkan hilang. Selain itu, jumlah pengungsi juga meningkat mencapai 608.940 orang, yang kini bergantung pada bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan di posko-posko pengungsian.
Kementerian Kesehatan, dalam upayanya untuk mempercepat pemulihan, berkoordinasi dengan berbagai aparat terkait untuk mengoperasikan kembali puskesmas yang masih tutup. Hal ini sangat penting untuk memastikan layanan kesehatan tidak terputus di tengah situasi yang menegangkan ini.
Pemerintah terus berupaya agar pengungsi dapat menerima layanan kesehatan yang cukup, terutama di tengah beragam isu kesehatan yang sering muncul pascabencana. Ketangguhan dan kepedulian seluruh elemen masyarakat terlihat jelas dalam upaya pemulihan ini.




