Tragedi memilukan terjadi di Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, di mana seorang petani berusia lanjut kehilangan nyawanya akibat kebakaran. Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 21 Oktober, ketika korban, yang diketahui berinisial S berusia 65 tahun, sedang berada di kebun miliknya.
Korban yang merupakan warga Kampung Culamega RT 02/01, Desa Bojongsari, itu berpamitan kepada istri untuk mengambil kayu bakar di kebunnya sendiri. Namun, tanpa diduga, kejadian tragis menimpa dirinya ketika api yang dinyalakan untuk membakar tumpukan daun dan ranting kering merambat dengan cepat.
Saat tiba di kebun yang terletak di tebing perbukitan, korban berencana membersihkan area tersebut. Hal ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan petani agar kebun tetap terawat dan dapat memberikan hasil yang baik saat panen tiba.
Ketika korban berusaha membakar tumpukan daun dan ranting, api seketika menyebar karena kondisi kebun yang sangat kering. Dugaan sementara menyebutkan korban tidak menyadari api telah meluas hingga ia berusaha untuk memadamkannya.
Kapolsek Bantarkalong, Iptu Agus Kasdili, menjelaskan bahwa korban berupaya memadamkan api tetapi kesulitan, terutama karena menghirup asap menyebabkan sesak napas. Keluarga korban mengungkapkan bahwa ia memiliki riwayat penyakit yang dapat memperburuk keadaannya saat menghadapi situasi berbahaya.
Penyebab dan Kronologi Kejadian Kebakaran di Kebun
Menurut keterangan, saat berjuang memadamkan kobaran api, korban menggunakan pelepah pisang dan ranting pohon kapol sebagai alat untuk mengendalikan api. Namun, ketika berusaha, ia terpeleset dan terjatuh ke dalam api yang berkobar.
Sejumlah warga setempat, seperti Abdu dan Iwan, yang melihat kepulan asap dari kejauhan, bergegas menuju lokasi dan tidak menyangka menemukan korban dalam keadaan mengenaskan. Korban ditemukan dalam kondisi hangus terbakar, yang mengindikasikan betapa hebatnya kobaran api yang menjalar di kebun tersebut.
Setelah kejadian tersebut, pihak kepolisian melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Ditemukan tumpukan rumput kering, daun, dan bambu, yang diduga sengaja dibakar oleh korban sebelum terjadi insiden tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa korban memang sedang berusaha membersihkan lahan kebunnya.
Kapolsek menegaskan, tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban, memperkuat dugaan bahwa kejadian ini murni akibat kelalaian. Polisi juga menemukan alat-alat yang digunakan korban untuk berusaha memadamkan api, yang semakin menambah gambaran kejadian tragis ini.
Reaksi Keluarga dan Masyarakat Terhadap Tragedi Ini
Keluarga korban menerima dengan ikhlas atas kejadian tragis tersebut dan memilih untuk tidak melakukan autopsi. Hal ini menunjukkan sikap ketabahan mereka dalam menghadapi musibah yang menimpa. Menurut mereka, ini adalah bagian dari takdir yang harus diterima.
Aipda Triana Anggasari, Kasi Humas Polres Tasikmalaya, menyampaikan bahwa surat penolakan untuk melakukan autopsi telah dibuat oleh pihak keluarga. Hal ini mengindikasikan kesadaran mereka akan berbagai aspek emosional dan budaya yang melingkupi pemakaman.
Dengan kejadian ini, masyarakat di sekitar mulai lebih waspada akan bahaya kebakaran, khususnya saat melakukan aktivitas di lahan pertanian. Upaya pencegahan menjadi penting untuk meminimalisir kejadian serupa di masa mendatang.
Pemakaman korban pun dilakukan segera setelah proses serah terima jenazah kepada pihak keluarga. Sementara itu, cerita tentang kecelakaan tragis ini membuat banyak orang merenungkan tentang pentingnya keselamatan saat melakukan aktivitas di luar ruangan.
Pentingnya Keselamatan dalam Aktivitas Pertanian
Di samping mengingat tragedi ini, ada pelajaran penting yang harus diambil oleh para petani dan masyarakat luas. Keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam melakukan aktivitas yang berisiko, seperti pembakaran sisa-sisa tanaman.
Penting bagi petani untuk memahami situasi dan kondisi di lapangan, termasuk faktor cuaca yang dapat berpotensi menambah risiko kebakaran. Mengedukasi diri tentang cara aman membersihkan lahan pertanian menjadi salah satu langkah strategis menuju lingkungan yang lebih aman.
Penyuluhan mengenai teknik pengelolaan lahan yang ramah lingkungan dapat membantu mengurangi penggunaan api. Hal ini penting karena dunia pertanian tidak lepas dari tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Petani diharapkan untuk bekerja sama dengan dinas terkait dalam mencari solusi alternatif untuk pembersihan lahan. Kegiatan ini tidak hanya akan mengurangi resiko kebakaran tetapi juga berdampak positif terhadap hasil pertanian yang lebih baik.
Semoga tragedi yang menimpa korban di Tasikmalaya ini menjadi pengingat bagi semua untuk lebih berhati-hati dan memperhatikan keselamatan diri maupun orang lain saat menjalankan kegiatan di lahan pertanian.













