Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, baru-baru ini meninjau secara langsung proyek pembangunan hybrid seawall, sebuah tanggul pantai yang terletak di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Infrastruktur ini didanai melalui APBD Provinsi Jawa Tengah 2026 dengan anggaran sebesar Rp10 miliar dan diharapkan dapat mengurangi dampak dari banjir rob dan abrasi yang sering terjadi di kawasan tersebut.
Pembangunan tanggul pantai ini sangat penting untuk membuka kembali peluang bagi masyarakat setempat dalam mengelola tambak mereka, serta untuk menggerakkan perekonomian di daerah pesisir. Taj Yasin menekankan bahwa proyek ini perlu memberikan manfaat yang nyata bagi warga, terutama bagi mereka yang telah berjuang melawan dampak rob dan sedimentasi selama bertahun-tahun.
Dia menyoroti bahwa kondisi yang ada saat ini menghambat berbagai aktivitas ekonomi, termasuk budidaya perikanan yang merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat setempat. Tanggul pantai ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk masalah tersebut dan memberikan dorongan bagi kelangsungan hidup para nelayan.
Pentingnya Infrastruktur Tanggul Pantai di Daerah Pesisir
Pembangunan tanggul pantai tidak hanya bertujuan untuk melindungi kawasan dari banjir rob dan abrasi, tetapi juga untuk menumbuhkan kembali ekosistem di sekitar pesisir. Dalam hal ini, tanggul dirancang untuk tidak hanya menggunakan konstruksi beton, tetapi juga mendukung pertumbuhan tanaman mangrove sebagai pelindung alami.
Taj Yasin menyatakan bahwa manfaat jangka panjang dari proyek ini akan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Infrastruktur ini berpotensi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat, sehingga akan mendorong perekonomian di wilayah pesisir yang terpuruk karena masalah abrasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menyampaikan bahwa target pembangunan tanggul pantai ini sepanjang 930 meter. Hal ini terdiri dari bangunan utama sepanjang 720 meter dan juga struktur groin atau pemecah gelombang yang sepanjang 210 meter.
Tahapan Pembangunan dan Progres Terkini
Pengerjaan proyek ini dibagi menjadi dua paket, di mana masing-masing paket mencakup 362 meter bangunan utama dan 105 meter groin. Total sebanyak 8.500 buah buis beton dipergunakan dalam proses pembangunan ini untuk memastikan ketahanan jangka panjang dari tanggul yang dibangun.
Per 25 Oktober 2026, progres pekerjaan untuk Paket I telah mencapai 56,212 persen, sementara Paket II mencatatkan progres 65,822 persen. Dengan masa pelaksanaan selama 175 hari, proyek ini dimulai pada 5 Juni dan direncanakan selesai pada 26 November 2026.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga melakukan berbagai upaya untuk melindungi kawasan pesisir. Salah satunya melalui program Mageri Segoro yang mencatat penanaman sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare sepanjang tahun 2025.
Respon Masyarakat terhadap Proyek Tanggul Pantai
Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pembangunan tanggul pantai ini. Ia optimistis bahwa infrastruktur tersebut akan membantu masyarakat menghadapi tantangan abrasi yang telah lama merugikan mereka.
Menurut Supriyanto, manfaat dari tanggul pantai sudah mulai dirasakan oleh warga. Sebelumnya, air yang sering masuk ke kawasan hunian memberikan dampak negatif, tetapi sekarang struktur pelindung yang dibangun memberikan harapan akan kondisi yang lebih aman.
Supriyanto juga menekankan bahwa penting untuk melanjutkan pembangunan hingga menjangkau wilayah pesisir lainnya yang masih memerlukan perlindungan. Jika hal ini dapat dilakukan, maka manfaatnya akan dirasakan tidak hanya oleh warga desa, tetapi juga oleh masyarakat di kawasan sekitar.
Warga merasa optimis dengan adanya hybrid seawall ini. Program ini dikatakan sangat membantu dalam meringankan penderitaan masyarakat yang selama bertahun-tahun harus berjuang melawan ancaman abrasi yang terus menerus terjadi.
Pembangunan ini, menurut Supriyanto, baru mencapai sekitar 900 meter, sementara masih ada kebutuhan untuk penanganan di area timur yang memerlukan perlindungan sekitar 1,5 kilometer. Jika koneksi bangunan bisa terwujud, manfaatnya tentu akan jauh lebih signifikan.














