Di Surabaya, sebuah insiden tragis terjadi ketika seorang remaja bernama Thomas Julius Kristianto (19) tewas setelah diduga dikeroyok oleh empat rekannya. Kejadian ini dipicu oleh perselisihan sepele mengenai ganti rugi sandal yang berujung pada kekerasan fatal.
Menurut kakak korban, Hana Novia Kristiani (32), insiden ini bermula pada Mei 2026. Thomas menggunakan sandal milik terduga pelaku yang tertinggal di rumah temannya akibat sandal pribadinya yang basah.
Sandal tersebut kemudian menghilang dari tempat penyimpanan korban di jok motor. Para pelaku yang merasa dirugikan kemudian meminta ganti rugi yang menyebabkan terjadinya konflik yang mencolok.
Awal Mula Perselisihan di antara Remaja
Perselisihan ini dimulai ketika Thomas menggunakan sandal milik pelaku tanpa izin. Sandal yang digunakan Thomas dituduh hilang, dan pelaku mulai menuntut ganti rugi yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Hana menjelaskan bahwa keluarganya berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik. Mereka bahkan sudah membayar ganti rugi dan mengembalikan sandal baru, tetapi ternyata masalah belum benar-benar terselesaikan.
Pelaku mengklaim bahwa sandal aslinya bernilai Rp1,5 juta, sedangkan sandal pengganti yang diberikan oleh Thomas jauh lebih murah. Hal ini memicu ketegangan di antara mereka dan menciptakan suasana yang lebih agresif.
Insiden Keras yang Mengancam Nyawa
Pada malam 30 Mei, pertemuan tak terduga terjadi di Jalan Manukan Mukti ketika Thomas pergi membeli minuman. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan kelompok pelaku yang lebih besar, dan di sinilah masalah semakin memuncak.
Thomas awalnya diajak berduel, tetapi situasi dengan cepat menjadi kacau ketika ia diseret ke lokasi lain dan dikeroyok. Beberapa saksi melaporkan bahwa Thomas tidak mampu melawan dan tampak tak berdaya setelah serangan tersebut.
Setelah dikeroyok, pelaku bahkan memboncengnya dengan sepeda motor. Sayangnya, Thomas terjatuh dan ditinggalkan di jalan dalam kondisi tidak sadar.
Keluarga Berharap Keadilan Setelah Kejadian Tragis
Keluarga Thomas menerima kabar tragis ini dan segera bergegas menuju rumah sakit setempat. Mereka menemukan bahwa luka yang diderita Thomas sangat parah, menyebabkan ia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Sayangnya, meskipun telah mendapatkan perawatan intensif, keadaan Thomas semakin memburuk, dan pada 4 Juni, ia dinyatakan meninggal dunia. Keluarga sangat terpukul dengan kejadian ini, terutama Hana yang merasa nyawa adiknya hilang dengan sia-sia.
Hana mengutuk keras tindakan brutal yang dilakukan pelaku hanya karena masalah yang sangat sepele. Ia berharap agar pihak kepolisian mengambil langkah tegas untuk mengusut tuntas kejadian ini dan membawa pelaku ke pengadilan.
Kini, Polrestabes Surabaya telah menangkap empat tersangka yang diduga terlibat dalam penganiayaan tersebut. Proses hukum pun sudah dimulai, dan pihak keluarga menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.
Selain menginginkan keadilan, keluarga juga berharap agar kasus ini menggugah masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, apalagi yang berujung pada nyawa seseorang.
Insiden ini seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Terlebih lagi, sangat disayangkan jika emosi sesaat dapat menghancurkan masa depan seseorang hanya karena perselisihan yang bisa diselesaikan dengan cara damai.














