I Gede Selamet, seorang sopir truk berusia 21 tahun, menjadi korban pembakaran hidup-hidup oleh bosnya. Kejadian tragis ini mengguncang masyarakat Bali dan menyoroti masalah kekerasan di tempat kerja.
Setelah seminggu berjuang di rumah sakit, Selamet akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat Prof Ngoerah, Denpasar. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan teman-temannya.
Kepala Desa Muncan, I Wayan Tunas, mengungkapkan bahwa saat ini keluarga masih merencanakan pemulangan jenazahnya ke kampung halaman. Proses ini akan menunggu upacara keagamaan yang sedang berlangsung di desa mereka.
Tragedi Pembakaran yang Mengguncang Bali
Pembakaran Selamet terjadi pada tanggal 18 September 2026, saat dia terlibat cekcok dengan bosnya, I Putu Cahyadi Putra, terkait uang setoran. Ketika perdebatan memanas, Putu nekat melakukan tindakan kejam tersebut, yang menyebabkan luka bakar sangat serius.
Selamet berusaha menyelamatkan diri dengan berlari keluar dari kamar sambil berteriak meminta pertolongan. Lukanya sangat parah, mencapai 68 persen di sekujur tubuhnya, dan ia harus berjuang melawan rasa sakit selama sepekan sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Keberanian Selamet untuk melawan api menjadi simbol harapan di tengah situasi yang tragis. Kejadian ini memberi pelajaran berharga tentang pentingnya perlindungan terhadap pekerja dan hak asasi manusia.
Dukungan Keuangan bagi Keluarga Korban
Selamet meninggalkan beban yang berat bagi keluarganya, terutama dalam hal biaya perawatan medis. Karena ia adalah korban tindak kriminal, biaya pengobatannya tidak bisa ditanggung oleh BPJS Kesehatan, menambah kesulitan finansial yang dihadapi keluarganya.
Tagihan medis di RSUP Prof Ngoerah mencapai Rp88 juta hingga satu hari sebelum ia meninggal. Keluarga harus mencari donasi dari relawan dan masyarakat untuk membantu meringankan beban biaya tersebut.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga memberikan bantuan senilai Rp25 juta untuk membantu pengobatan Selamet. Tindakan ini menunjukkan bahwa masyarakat dan pejabat dapat bersatu dalam menghadapi tragedi.
Penegakan Hukum dan Rencana Tindak Lanjut
Setelah kejadian itu, polisi segera menangkap I Putu Cahyadi sebagai pelaku tindak pidana berat ini. Penangkapan ini dilakukan dengan cepat untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dan menunjukan bahwa tindakan kejam seperti ini tidak akan ditoleransi.
Proses hukum terhadap pelaku akan menjadi penting untuk memastikan keadilan bagi keluarga Selamet. Hal ini juga diharapkan dapat menjadi peringatan bagi orang lain agar tidak melakukan kekerasan di tempat kerja.
Saat ini, masyarakat menanti langkah selanjutnya dari aparat hukum dan apakah pelaku akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Kasus ini telah memicu diskusi tentang mentalitas dalam bisnis dan perlunya perlindungan untuk pekerja.














