Debit air Sungai Cisadane melesu dalam waktu sebulan terakhir akibat datangnya musim kemarau yang berkepanjangan. Penurunan ini menyebabkan dasar sungai yang dipenuhi batuan terlihat jelas, dan menjadi lokasi baru bagi sejumlah warga untuk melakukan aktivitas memancing dan menjala ikan.
Pantauan di sekitar Bendung Pasar Baru, menunjukkan bahwa penyusutan debit air sungai disebabkan oleh minimnya pasokan air dari hulu di Bogor dan rendahnya curah hujan. Kondisi ini telah membuat banyak orang memanfaatkan kesempatan untuk menjelajahi dasar sungai yang kini kering.
Warga terlihat aktif turun ke dasar sungai, melakukan hal yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dari tepi aliran. Dengan kondisi air yang surut, mereka dapat menangkap ikan secara langsung di area yang biasanya terdampak banjir.
Dampak Musim Kemarau Terhadap Aktivitas Warga
Aktivitas masyarakat yang bergantung pada sumber air dari Sungai Cisadane sangat terpengaruh oleh penurunan debit air. Misalnya, seorang pemancing bernama Gunawan yang telah memanfaatkan kondisi ini sejak pagi hari mengungkapkan bahwa sudah sebulan lamanya hujan tidak turun.
Gunawan menambahkan bahwa pintu Bendung Pasar Baru jarang dibuka, sehingga sungai semakin surut. Kini, dengan aliran yang mengering, ia bisa turun langsung untuk memancing, yang sebelumnya ia lakukan dari tepi sungai.
Data menunjukkan bahwa ketinggian air Sungai Cisadane telah menyusut sebanyak 12 persen dari elevasi normal. Penurunan ini berpotensi menimbulkan masalah bagi pasokan air yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari warga maupun lahan pertanian.
Perubahan Lingkungan dan Krisis Air di Sekitar
Krisis air juga menyerang wilayah Kelurahan Kranggan di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Di lingkungannya, sumur-sumur warga mulai mengering dan memaksa mereka untuk mencari solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Warga terpaksa mencuci pakaian di Sungai Cisadane dan mengandalkan bantuan air dari mobil tangki. Seorang warga bernama Ekawati melaporkan bahwa sudah sebulan lamanya mereka menghadapi masalah ini.
Hal ini diperparah oleh kondisi geografis kawasan yang lebih tinggi, sehingga cadangan air tanah lebih cepat menyusut. Ketua RW setempat berharap solusi jangka panjang segera terwujud, dengan pembangunan jaringan perpipaan untuk akses air bersih yang berkelanjutan.
Solusi dan Harapan Warga untuk Masa Depan
Ketua RW Kranggan, Nasrullah, mengatakan bahwa masalah kekeringan bukanlah hal baru bagi wilayahnya. Setiap tahun, mereka selalu menghadapi tantangan yang serupa ketika musim kemarau tiba. Permintaan untuk jaringan perpipaan sudah diajukan tetapi belum ada realisasi hingga saat ini.
Camat Setu juga mengungkapkan bahwa sekitar 35 kepala keluarga terdampak oleh krisis air ini. Ketersediaan air bersih yang terbatas membuat kehidupan sehari-hari mereka terhambat.
Dengan memperhatikan situasi yang terus berulang, warga semakin berharap agar pemerintah memberikan solusi permanen dan tidak hanya mengandalkan bantuan sementara di musim kemarau. Hal ini menjadi harapan bagi mereka untuk memperbaiki kualitas hidup dan mengatasi masalah air bersih yang kerap muncul setiap tahun.














