KH Said Aqil Siradj secara tegas mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum maupun Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Pernyataan ini dilakukan saat konferensi pers, di mana Said menjelaskan alasannya dengan lugas dan penuh keyakinan.
Menanggapi pertanyaan tentang keinginan untuk kembali memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia, Said Aqil langsung membantahnya. Ia menekankan bahwa telah ada keputusan untuk memberikan kesempatan kepada generasi baru, khususnya di tengah kondisi usianya yang kini sudah memasuki 73 tahun.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menegaskan komitmennya terhadap regenerasi kepemimpinan di dalam PBNU. Menurutnya, kepemimpinan perlu diisi oleh generasi yang lebih muda, cerdas, dan mampu menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang.
Alasan KH Said Aqil Siradj Tidak Mencalonkan Diri Lagi
Said Aqil mengungkapkan bahwa usianya sudah cukup lanjut untuk kembali terjun dalam struktur kepemimpinan organisasi. Ia tidak ingin menghambat regenerasi yang sangat penting bagi perkembangan organisasi dan umat secara keseluruhan. “Sudah saatnya memberikan kesempatan kepada yang lebih muda,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, ia juga mengisyaratkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang kemampuan dan kecerdasan dalam membawa misi dan visi organisasi. Ia sangat percaya bahwa pemimpin ideal adalah yang mampu memahami kebutuhan jamaah dan masyarakat luas.
Lebih lanjut, Said mengaku enggan jika ditunjuk sebagai Rais Aam. Ia merasa penampilannya tidak mencerminkan sosok pemimpin yang biasa mengenakan serban, sebagai refleksi dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. “Saya tidak pernah menggunakan udeng-udeng,” tegasnya.
Muktamar NU Ke-35: Proses Persiapan dan Lokasi
Seiring dengan keputusan Said untuk tidak mencalonkan diri, Muktamar ke-35 NU tetap akan dilaksanakan pada Agustus 2026. Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, atau akrab dipanggil Gus Ipul, mengungkapkan bahwa lokasi untuk acara tersebut masih dalam tahap pembahasan.
Gus Ipul juga menambahkan bahwa ada banyak daerah yang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah. Prosedur kurasi akan dilakukan untuk memastikan lokasi yang dipilih mendukung kelancaran acara. “Banyak alternatif yang sedang dipertimbangkan,” ujarnya.
Proses pemilihan lokasi ini bukanlah hal yang mudah. PBNU harus mempertimbangkan banyak faktor, termasuk infrastruktur, aksesibilitas, dan kenyamanan bagi para peserta. Gus Ipul menjelaskan, pembahasan ini akan dilakukan oleh pimpinan tertinggi PBNU, termasuk Rais Aam dan Ketua Umum.
Pentingnya Regenerasi dalam Organisasi Islam
Regenerasi dalam organisasi seperti NU adalah hal yang sangat krusial. Proses ini tidak hanya mempertahankan keberlangsungan organisasi, tetapi juga memastikan bahwa visi dan misi dapat terus diimplementasikan dengan baik. Said Aqil percaya bahwa regenerasi akan membawa perspektif baru serta inovasi dalam strategi pengembangan.
Di sisi lain, pengalaman dari para senior tetap sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, Said menekankan pentingnya kolaborasi antara generasi tua dan muda dalam menjalankan amanah organisasi. “Kita bisa saling mengisi dan belajar satu sama lain,” ujarnya.
Dalam konteks ini, peran pemimpin sangat penting dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi generasi muda untuk berkembang. Seorang pemimpin ideal bukan hanya yang kaya pengalaman, tetapi juga yang mampu menjadi mentor bagi generasi penerusnya.














