Sejumlah mahasiswa dari Universitas Negeri Makassar (UNM) mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap pengamanan yang terlalu ketat dari pihak kepolisian pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka meminta agar pihak kepolisian meninggalkan area kampus demi menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi mahasiswa.
Mahasiswa tersebut menganggap pengamanan yang berlebihan tersebut mengganggu aktivitas perkuliahan dan menciptakan rasa ketidaknyamanan. Mereka merasa bahwa keberadaan sejumlah petugas dengan perlengkapan lengkap, termasuk senjata pelontar gas air mata, tidaklah diperlukan.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa banyak petugas berseragam dan berpakaian preman bersiaga di depan kampus UNM, suatu tindakan yang dianggap mahasiswa sebagai bentuk intimidasi. Mereka menilai bahwa kampus seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berdiskusi dan mengemukakan pendapat tanpa takut akan ancaman dari pihak luar.
Mengapa Mahasiswa Mempertanyakan Pengamanan yang Berlebihan?
Dalam orasinya, mahasiswa berpendapat bahwa pengamanan yang dilakukan oleh pihak kepolisian sangat mengganggu psikologis mereka. Hal ini terutama terjadi saat mereka ingin mengekspresikan pendapat mereka melalui unjuk rasa yang damai. Mereka menginginkan agar kampus tetap menjadi ruang berkreasi dan berekspresi.
Salah satu orator mengungkapkan, “Kami ingin menyampaikan suara kami, bukan untuk melakukan tindakan anarkis.” Mereka menekankan bahwa kampus harus menjadi tempat untuk berpikir kritis, bukan tempat yang dipenuhi rasa takut akibat pengamanan yang berlebihan.
Aksi mahasiswa sebelumnya berlangsung di pertigaan Jalan AP Pettarani-Jalan Sultan Alauddin, tetapi mereka merasa terkejut ketika melihat banyaknya personel kepolisian di sekitar kampus. Ini menimbulkan pertanyaan di benak mereka mengenai tujuan sebenarnya dari pengamanan tersebut.
Tanggapan Pihak Kepolisian Mengenai Pengamanan di Area Kampus
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menjelaskan bahwa penempatan kendaraan dan personel di sekitar kampus UNM adalah pertimbangan untuk mengelola akses jalan. Dia mengatakan, “Jalan di sekitar UNM adalah jalur utama, jadi kami perlu menjaga agar tidak terjadi kemacetan.” Ini merupakan upaya untuk menjaga kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut.
Menurut Arya, jika jalur tersebut ditutup tanpa penanganan yang tepat, maka itu akan merugikan masyarakat yang berada di kawasan tersebut. Selain itu, langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan saat mahasiswa menggelar unjuk rasa di titik-titik tertentu.
Kapolrestabes juga menyatakan bahwa penjagaan ketat diperlukan di semua lokasi, namun di kampus UNM hal ini dilakukan sebagai langkah pencegahan semata. Dia menegaskan, “Kami ingin memastikan semuanya berlangsung aman tanpa ada insiden yang tidak diinginkan.” Hal ini menunjukkan bahwa kepolisian tetap berusaha menjalankan tugas mereka dengan professional.
Dinamika antara Mahasiswa dan Pihak Berwenang di Kampus
Sikap menolak dari pihak mahasiswa tidak hanya ditujukan kepada pengamanannya, tetapi juga menyentuh aspek kebebasan berekspresi. Banyak mahasiswa merasa bahwa mereka seharusnya bisa menyampaikan aspirasi mereka tanpa ketakutan akan represifitas dari aparat. Mereka merasa berhak untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.
Mahasiswa menyerukan agar pihak kepolisian lebih memahami posisi mereka sebagai pelajar yang berdiskusi dan berargumentasi. “Kami bukan musuh, kami adalah bagian dari masyarakat yang ingin menyampaikan suara kami,” tegas salah satu mahasiswa lagi. Sekaligus, mereka sangat berharap agar pihak berwenang dapat lebih bijaksana dalam menangani aksi unjuk rasa yang berlangsung damai.
Ketegangan antara mahasiswa dan pihak kepolisian dalam situasi seperti ini bukanlah hal baru. Setiap kali berlangsungnya demonstrasi atau peringatan, situasi semacam ini selalu muncul. Namun, di sisi lain, penting bagi kedua belah pihak untuk menemukan jalan tengah agar mahasiswa tetap dapat beraktivitas akademis dengan baik.
Perlunya Dialog Antar Pihak untuk Memperbaiki Situasi
Salah satu solusi yang mungkin dapat diperhatikan adalah perlunya dialog antara mahasiswa dan pihak kepolisian. Dengan komunikasi yang baik, kedua belah pihak bisa mencapai pengertian yang lebih mendalam mengenai kebutuhan dan kekhawatiran masing-masing. Bagi mahasiswa, dialog ini bisa menjadi wadah untuk menjelaskan aspirasi mereka secara lansung.
Selain itu, pihak kampus juga perlu berperan aktif dalam menjembatani komunikasi ini. Seharusnya, rektor atau pihak yang berwenang di universitas dapat bertindak sebagai mediator dalam situasi yang memanas. Ini demi menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi mahasiswa dalam menyampaikan pendapat.
Harapannya, dengan adanya dialog yang konstruktif, pengamanan yang dilakukan oleh pihak kepolisian tidak lagi menimbulkan ketakutan di kalangan mahasiswa, dan sebaliknya, pihak kepolisian akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai aksi yang dilakukan mahasiswa. Ini semua demi terciptanya suasana yang lebih harmonis di lingkungan kampus.













