Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Golkar segera mengambil langkah tegas terkait kasus intimidasi yang dialami oleh dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang dikenal sebagai dokter Icha. Kejadian ini terjadi di Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur, pada 13 Juni 2026, dan melibatkan dua anggota DPRD dari masing-masing partai.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh PKB, pihaknya menekankan pentingnya menjaga etika dan disiplin di kalangan pejabat publik. Hal ini semakin relevan mengingat insiden tersebut mengindikasikan adanya pelanggaran serius terhadap kode etik yang seharusnya dipegang oleh seorang wakil rakyat.
“Kami akan melakukan proses tabayun untuk mendengarkan penjelasan dari Norbetus Tubani, agar mendapat gambaran yang jelas mengenai situasi ini,” ungkap Nihayatul Wafiroh, Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa. Dia menekankan bahwa tindakan intimidasi terhadap tenaga kesehatan adalah pelanggaran yang tak bisa ditoleransi.
Panggilan Pertama dan Sanksi yang Menanti
PKB berencana memanggil Norbetus Tubani untuk memberikan klarifikasi mengenai dugaan intimidasi tersebut. Jika terbukti bersalah, partai tidak segan-segan memberikan sanksi tegas. Hal ini menunjukkan bahwa PKB berkomitmen untuk bertindak adil dan memperhatikan keselamatan serta kesejahteraan tenaga medis di lapangan.
Nihayatul menegaskan bahwa intimidasi tidak hanya merugikan tenaga kesehatan, tetapi juga mencederai nama baik institusi. “Bila terbukti, kami akan memberikan sanksi disiplin kepada yang bersangkutan,” tuturnya. Pihak PKB berusaha mencegah terjadi lagi tindakan serupa di masa mendatang.
Langkah ini diambil untuk menjaga integritas partai dan memastikan bahwa semua anggotanya berperilaku sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. PKB menyadari pentingnya menjaga citra positif dan kepercayaan masyarakat.
Reaksi dari Pihak Golkar Terhadap Insiden Ini
Partai Golkar juga tidak tinggal diam. Sarmuji, petinggi partai, menyatakan bahwa anggota DPRD dari Golkar, Therensius Lazakar, akan dipanggil oleh DPD Provinsi. Ini menunjukkan bahwa Golkar pun berkomitmen untuk menindaklanjuti isu ini secara serius.
“Kami minta semua pejabat publik, terutama dari Golkar, untuk tidak menyalahgunakan wewenang,” ujar Sarmuji. Pesan ini perlu diperhatikan agar pejabat publik tidak merasa kebal terhadap tindakan yang tidak pantas, termasuk intimidasi terhadap tenaga medis.
Ketegasan Golkar dalam menanggapi insiden ini akan menjadi contoh baik untuk partai-partai lain. Penting untuk menegakkan prinsip-prinsip keadilan, terutama ketika menyangkut kesejahteraan masyarakat.
Insiden yang Menghentak Dunia Kesehatan
Dugaan intimidasi ini berawal dari peristiwa ketika dokter Icha menangani seorang pasien anak yang menjadi korban gigitan ular. Kejadian yang seharusnya diumumkan sebagai tindakan penyelamatan kehidupan, justru menjadi momen traumatis bagi dokter bersangkutan.
Menurut keterangan, dokter Icha mendapat tekanan dari keluarga pasien, khususnya dari Norbertus Tubani dan Therensius Lazakar. Tindakan ini sangat disayangkan, karena dokter seharusnya mendapatkan dukungan dalam melaksanakan tugas mulianya.
Peristiwa ini berujung pada kondisi yang sangat tragis. Setelah mengalami trauma akibat intimidasi, diketahui bahwa dokter Icha meninggal dunia pada 26 Juni 2026 dalam kondisi gantung diri. Kejadian ini menggugah simpati masyarakat dan menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai keselamatan tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan merasakan duka yang mendalam atas kehilangan ini. Pihaknya tengah melakukan investigasi menyeluruh mengenai dugaan intimidasi yang dialami oleh dokter Icha. Investigasi ini penting untuk menemukan fakta-fakta yang dapat menjelaskan situasi sebenarnya dan memastikan bahwa tindakan serupa tidak terulang.
Dari pernyataan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, langkah-langkah berkelanjutan akan diambil untuk menghadirkan keadilan bagi keluarga dokter Icha. Mengingat betapa pentingnya peran tenaga medis, pihak kementerian akan berupaya memberikan perlindungan lebih bagi mereka.
Pihak kepolisian setempat, Polres Timor Tengah Utara, juga tengah meningkatkan penyelidikan terkait insiden ini. Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote, menegaskan bahwa penanganan kasus ini dilakukan secara profesional dan transparan. Ini adalah langkah krusial agar masyarakat merasa aman dan terlindungi.













