Dusun Krajan, yang terletak di Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, baru-baru ini menyambut momen Iduladha 2026 dengan antusiasme luar biasa. Tahun ini, dusun ini mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah hewan kurban, menciptakan suasana yang sangat meriah.
Kepala Desa Batur, Ahmad Fauzi, mengungkapkan bahwa total hewan kurban mencapai ratusan ekor. Pergeseran tren dari sapi ke kambing menjadi sorotan menarik, menghadirkan nuansa baru dalam penyelenggaraan kurban di desa ini.
Fauzi menjelaskan bahwa tahun ini tercatat ada 52 ekor sapi dan 339 ekor kambing yang dikurbankan. Hal ini menandakan partisipasi aktif masyarakat dalam menjalankan tradisi berkurban.
Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Berkurban
Ketua panitia kurban setempat, Fauzi Santoso, menambahkan bahwa ratusan hewan kurban tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat. Terlebih, semua hewan kurban berasal dari masyarakat lokal, menunjukkan komitmen dan semangat kebersamaan di antara warga.
“Kita melihat perubahan ini sebagai langkah positif. Para warga kini lebih memilih kambing, mungkin karena lebih terjangkau dan mudah untuk dipelihara,” tambah Fauzi. Dengan jumlah kupon yang disediakan, panitia berharap semua daging kurban dapat terdistribusi dengan baik kepada warga.
Proses penyembelihan hewan kurban dijadwalkan berlangsung serentak di sejumlah musala dan masjid. Daging yang dihasilkan nanti akan dikumpulkan di gedung Muhammadiyah setempat untuk dibagikan kepada warga yang telah menerima kupon.
Alasan Perubahan Tren Berkurban di Dusun Krajan
Berkurangannya minat untuk berkurban sapi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ekonomi dan preferensi pribadi. Namun, hal ini tidak mengurangi semangat para sohibul kurban untuk menjalankan tradisi ini.
Keberadaan kupon pengambilan daging kurban sendiri direncanakan sebanyak 8.000 kupon, berdasarkan data dari tahun sebelumnya. Dengan populasi yang cukup besar, yaitu sekitar 1.300 kepala keluarga di dusun ini, hal ini menunjukkan bahwa banyak warga yang masih antusias berkurban.
Walaupun ada permintaan dari luar daerah, panitia tetap memprioritaskan warga lokal untuk menerima daging kurban. Dengan penjelasan ini, panitia berusaha menjaga tradisi ini agar tetap relevan dan hidup di kalangan masyarakat setempat.
Tradisi Berkurban sebagai Warisan Budaya
Tradisi berkurban saat Iduladha sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Desa Batur. Ahmad Fauzi menyebutkan bahwa sejarah berkurban di desa ini telah terabadikan sejak tahun 1959, menjadi salah satu warisan budaya yang patut dijaga.
“Kami memiliki dokumentasi yang lengkap mengenai aktivitas berkurban di desa kami. Kegiatan ini dilaksanakan secara teratur, dan menjadi momen kebersamaan bagi seluruh warga,” imbuhnya. Kesadaran untuk berkurban telah ditanamkan turun temurun, memperkuat ikatan sosial di antara warga desa.
Ia juga menekankan pentingnya dakwah saat menyampaikan pentingnya berkurban. “Kami sering menyampaikan, jika seseorang mampu membeli barang-barang seperti kendaraan, maka berkurban juga seharusnya menjadi prioritas,” tuturnya.
Tradisi berkurban yang telah berlangsung lebih dari enam dekade ini menjadi simbol pengabdian dan kepedulian antara sesama warga. Penataan kepanitiaan yang telah dibentuk sejak 2011 pun semakin meningkatkan efisiensi pelaksanaan kurban setiap tahunnya, dengan data yang lebih terstruktur.
Sejak tahun 2011, jumlah hewan kurban dan shohibul kurban di desa ini terus mengalami peningkatan. Fauzi menyampaikan, pada tahun 2024 tercatat sebagai tahun dengan jumlah hewan kurban terbanyak, yakni 74 ekor sapi dan 292 ekor kambing, yang kemudian menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Dengan semangat kolektif ini, Dukuh Krajan tidak hanya merayakan momen suci Iduladha, tetapi juga memperkuat jalinan sosial di tengah masyarakat, mengingatkan semua orang tentang pentingnya berbagi dan peduli kepada sesama.













