Anggota Komisi D dari DPRD Kabupaten Jember, Achmad Syahri Assidiqi, meminta maaf setelah video dirinya viral yang menunjukkan ia bermain game sambil merokok di tengah Rapat Dengar Pendapat (RDP). Perilakunya tersebut menimbulkan reaksi keras dari masyarakat dan menjadi sorotan luas, yang memunculkan pertanyaan tentang etika dan tanggung jawab anggota dewan dalam menjalankan tugas mereka.
Dalam video yang beredar, Syahri terlihat asyik bermain game di ponselnya tanpa memperhatikan jalannya rapat yang membahas layanan kesehatan. Ia kemudian menyampaikan permohonan maaf yang ditujukan kepada masyarakat Jember dan juga kepada partainya.
“Saya meminta maaf dengan rendah hati, terutama kepada masyarakat Jember,” ungkap Syahri dalam sebuah video pada tanggal 14 Mei lalu. Ia mengakui bahwa perbuatannya adalah sebuah kekhilafan yang tidak seharusnya terjadi.
Reaksi Publik dan Tindakan Lanjutan
Insiden ini menuai banyak reaksi dari masyarakat, terutama dari kalangan netizen yang mengecam perilaku Syahri. Banyak yang menyatakan bahwa perilaku tersebut sangat tidak pantas bagi seorang wakil rakyat yang seharusnya memberikan contoh baik. Akibatnya, pimpinan DPRD Jember merespons dengan menegaskan bahwa tindakan etis akan diambil terhadap anggotanya.
Ketua DPRD Jember, Abdul Halim, juga menyampaikan permohonan maaf dan memastikan bahwa Syahri akan diproses secara etik. “Kami menegur yang bersangkutan dan memastikan akan ada konsekuensi sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Halim merujuk pada proses yang akan dilakukan oleh Badan Kehormatan (BK) DPRD.
Masyarakat Jember, sebagai pemilih dan pemangku kepentingan, berharap insiden ini bisa menjadi pelajaran bagi semua anggota dewan dalam menjalankan tugas dengan profesionalisme. Kejadian seperti ini diharapkan tidak terulang lagi di masa depan.
Pernyataan dari Syahri dan Janji untuk Memperbaiki Diri
Syahri mengaku siap menerima sanksi dari partainya maupun DPRD. “Saya sadar dengan apa yang saya lakukan, dan saya khilaf. Ini adalah pembelajaran penting dalam hidup saya,” ujarnya optimis.
Ia menekankan bahwa kejadian ini telah membuka matanya tentang tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat. Syahri berjanji untuk memperbaiki diri dan memastikan kejadian serupa tidak akan terulang dalam rapat resmi mendatang.
“Saya berharap yang terjadi ini bisa menjadi pelajaran bagi saya dan bagi anak muda lainnya,” tambahnya. Dalam pandangannya, penting bagi publik untuk melihat ketulusan dari seorang wakil rakyat dalam mengakui kesalahan.
Proses Etika dan Tanggung Jawab Partai
Partai Gerindra juga menyatakan bahwa mereka akan mengambil tindakan sejalan dengan kode etik yang berlaku. Ketua Majelis Kehormatan Partai Gerindra menjelaskan bahwa Syahri akan dihadapkan dalam sidang untuk mempertimbangkan sanksi yang mungkin dijatuhkan.
Proses ini diharapkan dapat menunjukkan kepada publik bahwa partai tidak akan mentolerir perilaku anggota yang merugikan citra institusi. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga integritas Partai Gerindra,” ungkapnya.
Masyarakat perlu melihat kejelasan sikap dari partai terkait tindakan Syahri yang dinilai melenceng. Tindakan tegas diharapkan bisa memulihkan kepercayaan publik terhadap anggota DPRD serta partai politik itu sendiri.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Insiden ini memberikan pelajaran berharga baik bagi anggota dewan maupun masyarakat luas mengenai pentingnya etika dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Di era digital ini, perilaku tidak pantas bisa cepat tersebar dan memberikan dampak yang luas.
Dalam banyak hal, anggota dewan sebagai wakil rakyat harus lebih berhati-hati dan duduk pada posisi yang pantas dalam menjalankan fungsi mereka. Praktik yang lebih baik dan disiplin yang kuat harus diterapkan agar bisa menjawab harapan publik.
Sebagai penutup, diharapkan setiap anggota DPRD senantiasa menjaga etika dan profesionalisme dalam bertugas. Publik berhak mendapatkan wakil yang dapat diandalkan dan memiliki integritas, serta dapat menempatkan kepentingan masyarakat di atas segalanya.











