Puluhan ribu umat Buddha dari berbagai daerah akan berkumpul di Candi Borobudur untuk merayakan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 pada akhir Mei mendatang. Acara ini diperkirakan akan menjadi salah satu perayaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir karena antusiasme yang tinggi dari peserta.
Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, menyampaikan bahwa hingga pertengahan Mei 2026, jumlah peserta terdaftar sudah mencapai 23 ribu orang. Peserta ini datang dari berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, Jakarta, dan Banten.
Pada saat yang sama, Tanto juga mencatat bahwa sebagian besar peserta berasal dari Jawa Tengah, dan jumlah ini diprediksi akan terus meningkat menjelang malam pelepasan lampion, yang menjadi salah satu momen paling dinanti dalam rangkaian perayaan Waisak.
Antusiasme Tinggi Umat Buddha Menjelang Waisak 2026
Perayaan Waisak kali ini akan menjadi sebuah momentum yang sangat berarti bagi umat Buddha di seluruh Indonesia. Berdasarkan informasi, diperkirakan akan ada lonjakan pengunjung menjelang perayaan puncak, terutama saat pelepasan lampion yang merupakan tradisi pada setiap perayaan Waisak.
Tanto mengungkapkan bahwa biasanya, pada hari H, banyak umat yang datang langsung ke lokasi sehingga diperkirakan jumlah peserta bisa bertambah hingga 10 ribu orang. Lonjakan ini menunjukkan betapa besar perhatian dan rasa cinta umat Buddha terhadap tradisi yang telah berlangsung lama ini.
Sebagai persiapan, kawasan Borobudur dan sekitarnya telah merasakan dampak ekonomi yang signifikan, dengan tingkat hunian hotel dan penginapan hampir penuh. Hal ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha di sektor pariwisata dan kuliner yang berada di sekitar Candi Borobudur.
Dampak Ekonomi dari Perayaan Waisak untuk Masyarakat Lokal
Perayaan Waisak tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Pelaku usaha dari berbagai sektor merasa diuntungkan, mulai dari hotel, homestay, hingga warung makan dan restoran yang telah dipenuhi oleh pengunjung.
Tanto menegaskan bahwa dampak ekonomi ini sangat terasa, seiring dengan persiapan dan pelaksanaan kegiatan yang melibatkan banyak orang. Momen libur panjang yang bertepatan dengan perayaan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung, yang berkontribusi pada tingginya jumlah kunjungan.
Perayaan Waisak 2026 juga memiliki nuansa spiritual yang khas, dengan kegiatan seperti perjalanan para Bhikkhu Thudong yang melakukan ziarah dari Bali menuju Borobudur, menempuh jarak sekitar 660 kilometer. Hal ini menambah keaslian dan kedalaman makna perayaan yang akan berlangsung.
Perjalanan Spiritual Bhikkhu Thudong Menuju Borobudur
Sekitar 60 bhikkhu akan berpartisipasi dalam perjalanan ini, yang terdiri dari 50 bhikkhu asing dan 10 bhikkhu lokal. Perjalanan ini bukan hanya sekadar fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam bagi setiap peserta.
Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional 2026, Karuna Murdaya, menggambarkan perjalanan ini sebagai bagian penting dari perayaan. Keterlibatan bhikkhu dari berbagai negara menunjukkan semangat persatuan dan kekeluargaan antar umat Buddha di seluruh dunia.
Puncak acara Waisak direncanakan berlangsung pada 31 Mei 2026, di mana detik-detik Waisak akan jatuh pada sore hari, tepat pukul 15.44 WIB. Hal ini membuat penyesuaian dalam susunan acara jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk memastikan setiap detil dapat dilaksanakan dengan baik.













