Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar di tengah turunnya nilai tukar rupiah. Ia mengindikasikan bahwa melemahnya rupiah yang melewati Rp17.500 per dolar AS merupakan tanda adanya tekanan pada perekonomian, baik dari faktor eksternal maupun domestik yang saling berhubungan.
Marwan menegaskan bahwa situasi ini tidak semestinya disamakan dengan krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. Dasar ekonomi Indonesia dianggap masih cukup kuat untuk mengatasi tantangan yang ada saat ini.
Dalam pandangannya, cadangan devisa Indonesia berada pada tingkat yang aman, dan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap terjaga. Selain itu, kondisi sistem perbankan yang sehat memberi optimisme pada ketahanan ekonomi negara.
Analisis Terhadap Penurunan Nilai Tukar Rupiah Saat Ini
Marwan menekankan bahwa meskipun cadangan devisa masih kuat, pelemahan rupiah tidak boleh dianggap remeh. Volatilitas nilai tukar yang tinggi dapat menyebabkan inflasi yang diimpor, peningkatan biaya utang luar negeri, dan dapat mempengaruhi daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Ia mengingatkan bahwa reaksi pemerintah dan Bank Indonesia terhadap penurunan nilai tukar harus dilakukan dengan kebijakan yang terukur dan tidak berorientasi pada solusi jangka pendek. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan di pasar.
Pentingnya intervensi di pasar juga ditekankan, di mana Marwan mendorong Bank Indonesia untuk melakukan langkah-langkah strategis di pasar spot dan pasar offshore. Namun, intervensi tersebut perlu dilakukan dengan perhitungan yang cermat agar tidak menggerus cadangan devisa secara berlebihan.
Rekomendasi Kebijakan untuk Memperkuat Ekonomi Nasional
Marwan juga menyoroti pentingnya komunikasi kebijakan yang transparan dari Bank Indonesia untuk menjaga ekspektasi dan kepercayaan pasar. Dalam situasi ketidakpastian, keraguan di pasar dapat lebih berpengaruh daripada data ekonomi yang mendasari.
Pembatasan pembelian dolar AS tanpa transaksi yang mendasar juga diapresiasi, namun implementasinya perlu dilakukan hati-hati agar tidak menyebabkan kepanikan di pasar. Pengawasan yang ketat terhadap repatriasi devisa hasil ekspor sumber daya alam juga dinilai penting.
Kebijakan yang konsisten dan memberikan kepastian hukum kepada pelaku usaha akan membantu menciptakan lingkungan usaha yang lebih stabil. Marwan berpendapat bahwa mempercepat penggunaan Local Currency Settlement (LCS) dengan negara mitra dagang utama dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Peran Pemerintah dan Kementerian Keuangan dalam Menjaga Stabilitas
Ia juga menekankan bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah bukanlah tanggung jawab Bank Indonesia saja. Kementerian Keuangan harus terlibat aktif dalam menjaga stabilitas pasar, khususnya dalam pengelolaan surat utang negara.
Dengan demikian, pengelolaan pembiayaan yang fleksibel dan optimalisasi instrumen stabilisasi pasar menjadi kunci dalam menjaga nilai tukar. Konsistensi dalam kebijakan akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah saat ini.
Dari perspektif kebijakan suku bunga, Marwan mengakui bahwa kenaikan suku bunga bisa membantu menahan arus keluar modal. Namun, kenaikan yang terlalu agresif juga berpotensi menekan kredibilitas investasi dan konsumsi domestik.













