Wacana penggantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda kembali diperkuat setelah seluruh fraksi di DPRD Jawa Barat memberikan dukungan terhadap pembahasannya. Proses ini mendorong diskusi mendalam tentang identitas wilayah yang telah ada sejak zaman dahulu hingga sekarang.
Di balik ide tersebut, terdapat perjalanan panjang yang mencakup perubahan identitas wilayah dari berbagai era, mulai dari zaman es hingga masa kemerdekaan Indonesia. Hal ini menunjukkan bagaimana sejarah telah membentuk cara masyarakat melihat dan memahami tempat mereka tinggal.
Ganjar Kurnia, Guru Besar Universitas Padjadjaran, menilai bahwa usulan perubahan nama ini sebagai usaha untuk menegaskan identitas ruang hidup yang kaya akan sejarah, budaya, dan pengalaman kolektif masyarakat. Nama ‘Jawa Barat,’ menurutnya, lebih merupakan indikator administratif daripada representasi yang lebih dalam dari penghuni wilayah tersebut.
Pentingnya Menggali Makna di Balik Nama Wilayah
Menurut Ganjar, nama ‘Jawa Barat’ berfungsi sebagai tanda posisi geografis, tetapi tidak menangkap esensi historis dan budaya yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Terdapat kebutuhan untuk mempertimbangkan apakah nama yang ada saat ini mencerminkan jati diri masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Dia menjelaskan bahwa kata ‘Sunda’ lebih dari sekadar nama; ia mewakili ruang kebumian dan sejarah yang lebih tua. Ini memberikan dimensi lebih dalam selain sekedar nama provinsi yang diakui secara administratif.
Nama yang diusulkan, Tatar Sunda, menggarisbawahi hubungan masyarakat dengan tanah yang mereka huni. Ini bukan hanya masalah administratif, melainkan soal memori kolektif dan identitas kultural yang telah ada selama berabad-abad.
Aspek Geografi dalam Pemahaman Nama ‘Sunda’
Ganjar menerangkan bahwa istilah ‘Sunda’ dalam ilmu kebumian mengacu pada paparan Sunda, yang merupakan wilayah landas kontinen. Ini terbentang meliputi area yang luas, termasuk pulau-pulau besar di Asia Tenggara, yang memiliki sejarah geologi yang panjang.
Pakar geologi menjelaskan bahwa pada akhir zaman es, daratan ini terendam oleh kenaikan permukaan air laut, mengubah kawasan ini menjadi kepulauan seperti yang dikenal saat ini. Istilah tersebut lebih merupakan identifikasi geografis ketimbang suatu penggolongan berdasarkan etnis atau budaya.
Dari kajian lebih jauh, Ganjar menekankan bahwa nama ‘Sunda’ telah ada jauh sebelum penamaan administratif terbentuk. Ini menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang wilayah tidak cukup hanya berdasarkan administrasi, tetapi juga memerlukan pengakuan akan sejarah dan budaya yang ada.
Ragam Sejarah dan Budaya yang Mengisi Wilayah Ini
Sejarah wilayah ini telah membentang sejak jaman Kerajaan Tarumanegara yang berkuasa pada abad ke-5, menciptakan tradisi dan budaya yang hingga kini masih relevan. Peninggalan prasasti berbahasa Sanskerta dari kerajaan tersebut menjadi bukti awal adanya pemerintahan di kawasan ini.
Pada abad ke-8, Kerajaan Sunda atau Pajajaran menjadi pusat kekuasaan yang baru setelah runtuhnya Tarumanegara, menegaskan keberlanjutan budaya Sunda dalam catatan sejarah. Hal ini menciptakan suatu fondasi kuat bagi identitas budaya yang ada saat ini.
Namun, perubahan peta politik mulai terlihat pada abad ke-16 ketika pengaruh Kesultanan Demak mulai mengubah wajah kekuasaan dan kebudayaan di wilayah ini. Tetap saja, ciri khas dan tradisi yang mengakar dalam masyarakat Sunda tidak hilang, melainkan beradaptasi dengan kondisi zaman.
Pengaruh Kolonialisme dalam Pembentukan Identitas Wilayah
Penamaan Jawa Barat sebagai wilayah administratif muncul pada masa kolonialisme Belanda, di mana wilayah ini diakui sebagai Soendalanden. Identitas tersebut tidak hanya menjadi administratif, tetapi juga menyentuh aspek budaya yang kaya di dalamnya.
Pada tahun 1925, istilah itu diganti menjadi Provincie West-Java, menandai periode di mana identitas administratif mulai diatur secara resmi. Perubahan ini merujuk pada dampak yang dihasilkan dari kebijakan pemerintah kolonial yang mengorganisir wilayah menjadi provinsi.
Perubahan lebih lanjut yang terjadi pascakemerdekaan menandai pencarian identitas baru bagi wilayah ini. Jawa Barat, yang menjadi salah satu dari delapan provinsi pertama, menggambarkan perjalanan panjang dan dinamis dalam pencarian makna dan pengakuan atas identitas yang telah dibangun selama ribuan tahun.
Kemerdekaan dan Identitas Baru
Setelah merdeka, wilayah ini mengalami transisi, termasuk selama periode Negara Pasundan dalam Republik Indonesia Serikat sebelum akhirnya kembali ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanggal 19 Agustus dipilih sebagai Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mencerminkan komitmen pada identitas baru pascakemerdekaan.
Setelah pemekaran daerah, wilayah yang dulunya meliputi hingga Banten harus beradaptasi dengan perubahan dalam struktur pemerintahan dan identitas. Meskipun demikian, keberagaman dan dinamika budaya yang ada tetap menjadi bagian integral dari masyarakat Jawa Barat.
Penggantian nama menjadi Tatar Sunda tidak hanya sekadar label baru, melainkan merupakan langkah untuk merangkul sejarah, budaya, dan identitas yang dinamis. Ini adalah pengakuan atas perjalanan panjang yang menghargai warisan dan memberikan makna baru bagi generasi mendatang.














